Penanganan awal dan penanganan lanjutan serangan jantung sama pentingnya. Keduanya saling melengkapi.

Penanganan awal, yaitu terapi reperfusi, bertujuan membuka kembali aliran koroner yang tersumbat. Penanganan lanjutan serangan jantung bertujuan mempertahankan aliran koroner tetap baik.

Penanganan awal mencegah kematian. Penanganan lanjutan serangan jantung mempertahankan kehidupan. Penanganan awal harus dilakukan secepat mungkin. Penanganan lanjutan serangan jantung harus dilakukan selama mungkin (maksudnya, seumur hidup).

fase fase rehabilitasi jantung – di rumah sakit

Di rumah sakit, setelah terapi reperfusi, baik menggunakan alat atau obat, dokter akan menempatkan pasien di ruang rawat intensif untuk pengawasan. Pasien dipindahkan ke ruangan biasa bila minimal selama 24 jam tidak ada masalah, artinya tidak ada keluhan, dan tidak ada gangguan tanda-tanda vital pasien seperti tensi, nadi, pernapasan, dan irama jantung.

Biasanya pasien akan berada di bangsal perawatan selama 2 atau 3 hari. Dan bila tidak ada masalah, sudah boleh rawat jalan.

Penanganan lanjutan serangan jantung – di rumah

Penanganan lanjutan serangan jantung yang terpenting justru dilakukan di rumah. Program penanganan lanjutan serangan jantung disebut pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder artinya mencegah jangan sampai kejadian yang sama, yaitu serangan jantung, terjadi lagi di kemudian hari. Program ini harus dilakukan berkesinambungan.

Program ini tidak melulu menggunakan obat. Prioritas pertama yang harus dilakukan pasien adalah mengubah gaya hidup. Stop rokok bagi yang merokok. Pola makan sehat. Olahraga teratur dan terukur. Dan hindari stres.

Berikutnya, yang tak kalah pentingnya, adalah obat-obatan. Setelah serangan jantung, pasien harus minum beberapa macam obat. Beberapa diantaranya bahkan harus diminum seumur hidup.

Pasien seringkali gagal melakukan ini karena berbagai alasan. Ada yang beranggapan dirinya sudah sembuh, tidak perlu minum obat lagi. Ada juga yang tidak mau minum obat terus karena kuatir ‘ketergantungan obat’, atau kuatir ginjal terganggu. Pasien seringkali juga enggan minum obat, karena merasa obatnya banyak sekali. Ini pemahaman yang keliru. Justru harusnya ‘lebih kuatir’ bila tidak minum obat, karena kemungkinan serangan jantung ulang dan perburukan fungsi jantung.

Paling tidak, setelah serangan jantung, pasien harus mengkonsumsi obat pengencer darah. Setahun pertama biasanya dua macam pengencer darah. Selanjutnya satu macam pengencer darah untuk seumur hidup. Obat berikutnya adalah obat penurun kolesterol. Obat ini selain menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), juga menjaga supaya plak tidak cepat bertambah, dan tidak mudah mengalami robekan (ruptur).

Pasien juga akan mendapat satu atau dua macam obat untuk menjaga kinerja jantung. Setelah serangan jantung kinerja jantung akan menurun bila tidak dibantu dengan obat. Bila menderita diabetes, yang merupakan faktor resiko jantung, pasien juga akan mendapat obat anti diabetes. Itu alasannya mengapa setelah serangan jantung pasien harus minum ‘banyak’ obat.

Kepatuhan

Jadi, walaupun penanganan awal serangan jantung sangat penting, penanganan lanjutan juga sangat penting. Pada penanganan awal peranan dokter sangat penting. Peranan pasien ‘hanyalah’ secepat mungkin pergi ke rumah sakit yang tepat. Pada penanganan lanjutan serangan jantung, peranan dokter ‘hanyalah’ memberi nasehat dan resep obat. Peranan pasien jauh lebih penting, yaitu mematuhi setiap nasihat dokter, menjaga gaya hidup sehat dan minum obat teratur.